Home » » MENGENAL ISLAM DI PAPUA

MENGENAL ISLAM DI PAPUA

Written By Umarlan on 22 Januari 2012 | 21.34

Mengenal islam di Papua
Ketika saya menjadi Sekretaris I HMI Cabang Jayapura (1977-1978) dan Ketua Umum LHMI-HMI Cabang Jayapura (1978-1979 dan 1979-1980) banyak memang pengalaman menarik di Bumi Cenderawasih itu, terutama dalam hal kerukunan beragama. Pada waktu itu saling menghormati sangat terasa meski Islam adalah minoritas. Di Papua kebanyakan warga Muslim berasal dari para pendatang, Makasar dan daerah-daerah sekitarnya di samping banyak pula warga asli yang memeluknya.

Menurut sumber yang saya terima dari  Majelis Muslim Papua (MMP), sekarang ini penduduk pribumi (masyarakat asli) Papua yang memeluk Islam tersebar di kantong-kantong pemukiman "tradisional" sekitar kawasan Pesisir di bagian barat ke selatan (Raja Ampat, Teluk Bintuni, Babo, Inanwatan, Kokoda, Kokas, Fakfak, Kaimana, Teluk Arguni sampai Kayu Merah di Distrik Teluk Etna). Di kawasan Budaya Animha (Merauke), walaupun tidak banyak, namun terdapat juga komunitas Muslim Papua di Okaba dan Asmat. Demikian pula di Pegunungan Tengah, mereka berasal dan tinggal di Walessi, Hitigima, Air Garam dan di bebarapa perkampungan asli sekitar Lembah Baliem.

Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lainnya datang ke Papua, Islam sudah lebih awal masuk ke Papua. Sebagaimana hal ini dilaporkan seorang Antropolog Papua Dr.J.R. Mansoben (1977):"Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam." Menurut Van der Leeder (1980,22), agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat atas pengaruh dari Kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada Abad XIII.

Maka tidaklah mengherankan bila kedatangan Missionaris Kristen pertama justru diantar oleh Muballigh Islam (Muhammad Arfan: Penduduk Asli Raja Ampat) utusan dari Kerajaan Tidore pada 5 Februari 1855 di sebuah Pulau Kecil Mansinam di perairan Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C.W.Ottow dan G.J.Geisseir.

Di bagian lain Papua yakni di daerah Pegunungan Tengah Papua, Islam juga berkembang dan dianut oleh masyarakat pribumi. Pusat perkembangan Islam di daerah pegunungan ini berada di Kampung Walesi Kabupaten Jayawijaya yang kemudian menyebar ke 12 kampung lain disekitarnya. Pada tahun-tahun 1960-an akhir pasca istegrasi, penduduknya telah menganut Agama Islam. Kampung-kampung itu adalah Hitigima, Air Garam, Okilik, Apenas, Jagara, Ibele, Araboda,Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima.

Kampung Walessi yang berasda di Distrik Wamena Kabupaten Jayawijaya ini dikenal sebagai "Perkampungan Muslim Tertinggi di Dunia" berada pada ketinggian 3000 di atas permukaan air laut dengan suhu rata-rata 14 - 26 Derajat Celcius. Kampung Walesi menjadi pusat pengembangan dan dakwah Islam "Islamic Center" bagi daerah-daerah sekitarnya di Pegunungan Tengah Papua.
Tahun 1974 mencuat berita mengejutkan, yaitu masuk Islamnya "Kepala Suku Perang" Aipon Asso. Keislaman Aipon Asso diikuti oleh 600 orang warganya di Desa Walesi. H,Aipon yang waktu itu sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat disegani di seluruh Lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang hampir 2/3 cekungan mangkuk Lembah Baliem.

Dia benar-benar sosok kepala suku Muajahid yang sangat diperhitungkan di kawasan ini. Bahkan ketika dia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif dia turun ke jalan dan melakukan pawai di pusat Kota Wamena sambil mengerahkan ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada.

Teringatlah kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tingkah lakunya tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut.

Tahun 2007, Aipon Asso sempat hadir di Jayapura untuk mengikuti Muktamar I Majelis Muslim Papua pada tanggal 10 - 13 April 2007. Setelah acara itu, beliau pulang ke Jayawijaya dan segera mengundang seluruh muslim Jayawijaya untuk membentuk Majelis Muslim Papua wilayah kabupaten Jayawijaya. Musyawarah Wilayah Majelis Muslim Papua memberikan amanah kepada H. Aipon Asso sebagai Ketua Dewan Ukhuwah Majelis Muslim Papua Wilayah Jayawijaya. Sebelum dilantik, dia terlebih dahulu dipanggil Sang Khalik untuk menghadap selama-lamanya.

MENGENAL ISLAM DI WALESI
Sebelum orang-orang Walesi masuk agama Islam, sebenarnya yang lebih dulu masuk agama Islaam Suku Dani Lembah Baliem Wamena adalah orang-orang dari Megapura klan Lani, Lokobal, Matuan dan Asso dari daerah Megapura dan Hitigima, Lanitapo dan suku Mukoko,Wouma melalui guru-guru asal Jawa yang dikirim oleh pemerintah di SD Impres Megapura (nama daerah ini dulu, Sinata).

Tapi agama Islam tidak berkembang dikalangan mereka sebagaimana perkembangan Islam di Walesi yang didukung oleh kepala-kepala suku besar dan tokoh-tokoh Adat, walaupun kini komunitas muslim di Wamena sudah merata.

Sebelum Madrasah Ibtidaiyah (MI) Merasugun Asso didirikan pada tahun 1978, di Welesi sebenarnya sudah ada SD YPPK (Yayasan Pendidikan Kristen Katolik) dari Missi Katolik. Jaraknya tidak jauh dari Distrik Assolipele, (Assolipele adalah nama confederasi perang tapi juga nama kampung/distrik). Saya pernah masuk SD YPKK ini tapi hanya sebentar saja. Saya ditolak oleh guru wali kelas bernama Cosmas Asso. Alasannya saya masih kecil selain jarak dari rumahku jauh untuk ukuran usiaku pada masa itu. Mungkin begitu pertimbangan guru wali kelas itu karena memang badanku kecil dari teman sebaya yang boleh sekolah dan diterima di sekolah itu.        
           
Karena SD YPPK dari Missi Katolik maka semua anak-anak muslim (kakak-kakak kami) dari clan Assolipele berjumlah 20 orang yang tidak boleh sekolah di SD ini dikirim ke Jayapura untuk sekolah di SD Muahhamadiyah Abepura dan Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Anwar kota Jayapura.

Dalam waktu sama dikampung kami mulai bangun rumah tempat tinggal guru dan Madrasah Ibtidaiyyah, sebagai sekolah Islam pertama dan satu-satunya di Wamena dan Pegunungan Tengah Papua hingga dewasa ini dibangun. Bangunan ini kemudian digunakan berbagai macam kegiatan keagamaan seperti pengajian  semi Pondok Pesantren oleh guru-guru dari Jawa dan Bintuni-Fak-Fak yang datang pada tahun 1977-1980.
           
Saya bersama teman-teman sebaya belajar mengaji disini setiap sore ba’da maghrib (selesai sholat maghrib, jam 18.00 WITA), seperti kaifiyatusholah (tata cara sholat), thoharah (tata cara berwudhu), sholat jum’at bersama kaum bapak, sholat taraweh berjama’ah tiap bulan Ramadhon (bulan puasa), khitanan massal, rapat umum jika ada tamu dari Jayapura atau Jakarta dll.
           
Bangunan pertama ini bentuknya segi empat dan dua tingkat. Ditingkat atas digunakan untuk tempat tinggal guru-guru, dibawahnya difungsikan tempat mengaji, mushollah, madrasah di pagi hari dan berbagai fungsi keagamaan Islam lainnya seperti telah disebut diatas.
Pembangunan dan lokasi Islamic centre Walesi pada mulanya diatas tanah milik clan Asso. Tapi karena lokasinya jauh dan kedalam, maka di pindah temapt sekarang ini diatas tanah clan Yelipele.
           
Bangunan pertama ini sudah direncanakan tahun 1975 tapi mulai dibangun tahun 1978 dan selesai tahun 1979 siap digunakan untuk kami sekolah. Bangunan ini belakangan mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sekolah Islam pertama (Madrasah Ibtidaiyyah) pada pagi hari sejak guru-guru dari Jawa dan Kokas Bintuni Papua datang tinggal disini. Sementara itu pembangunan Madrasah Ibtidaiyyah sudah dimulai dibangun.
           
Tapi sebelum ada bangunan sekolah dan rumah tempat tinggal didirikan disini guru-guru Agama Islam sudah datang lebih dulu dari Fak-Fak jauh sebelumnya. Yang pertama datang adalah Pak Guru Aroby Aituarau (kini MRP Pojka Agama) dari Jayapura kelahiran Kaimana dan kedua Pak Jamaluddi Iribaram dari Kokas Bintuni (kini kepala Urusan Haji Propinsi Papua). Sebelum akhirnya bangunan sekolah kami Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso benar-benar dibangun lengkap 6 ruang kelas belajar yang sangat megah dan modern pada tahun 1980 untuk ukuran daerah pedalaman Pegunungan Tengah Papua waktu itu.
           
Saya belum pernah mengalami pendidikan dengan Pak Aroby Aituarau karena waktu itu (tahun 1978) saya sangat kecil. Konon dia mengajar pelajaran agama Islam di lapangan terbuka beralaskan rumput. Sebagai tempat tinggal sementara dia dibuatkan gubuk kecil disamping rumah Kepala Suku Haji Muhammad Aipon Asso. Karena tidak ada bangunan apalagi sekolah kala itu di Kampung Assolipele. Aroby Aituarau datang mengajar Islam disini tahun 1977-1978.
           
Beberapa waktu kemudian sepeninggal Aroby Aituarau, Jamaluddin Iribaram dari Kokas didatangkan. Rumah tempat tinggal guru kedua ini sudah selesai dibangun tahun 1978 seperti dijelaskan diatas tadi, berupa bangunan segi empat dua lantai. Tempat itu kini dikenal sebagai lokasi Islamic Centre Walesi sekarang. Pak Jamal kelak hidup lama di Wamena, tidak seperti Arobi Aituarau yang hanya sebentar walaupun keduannya sama-sama Asli Papua, masih muda dari Uncen Jayapura, aktifis HMI, dan berasal dari Fak-Fak dan didatangkan oleh Islamic Centre. Organisasi ini didirikan atas gagasan Dr. Kolonel Mulya Tarmidzi dari Angkatan Laut 10 Hamadi Jayapura.

Ketua Islamic Centre kota Wamena Kabupaten Jayawi Jaya pada waktu itu Pak Hasan Panjaitan, Sekda Kabupaten Jayawi Jaya. Sponsor utama dukungan organisasi ini datang dari para pejabat di ibukota Propinsi Papua yang beragama Islam dan utamanya Dr. Kolonel Mulya Tarmidzi dari AL dan Saddiq Ismail Kadolog. Jamaluddin Iribaram sama dengan Aroby Aituarau, didatangkan ke Walesi masih berstatus mahasiswa Uncen kala itu. Dia dibujuk agar meninggalkan kuliah untuk mengajar Islam disini. Jalamaluddin Iribaram muda ganteng tapi taat agama, saya kira wajar kalau dia sebagai guru agama/ustadz, tidak pernah terpengaruh oleh banyak perempuan muda Walesi suka padanya.

Saya termasuk siswa ajaran pertama Pak Guru ini. Mula-mula Pak Jamal tiba disini pengajaran pendidikan madrasah belum di mulai secara luas –kecuali kami anak-anak kampung sekitar sudah diajari mengaji duluan- tapi terbatas hanya beberapa anak dan masih dilakukan himbauan-himbauan agar para orang tua memasukkan anak pada pelajaran Al-Qur’an sore hari. Disamping belum ada bangunan sekolah untuk sementara tempat tinggal Pak Jamal (rumah guru) di jadikan sebagai ruang serba guna misalnya ruang belajar agama Islam anak-anak sekaligus dijadikan tempat pengislaman seperti sunatan massal, syahadat dan tempat belajar tata cara sholat kaum tua.

Saat itu saya belum berpakaian (tapi bulum layak kenakan koteka) demikian semua teman-teman sebayaku disini, sejak mula saya cerita bahwa saya sudah yatim piatu. Sebagai anak yatim yang ditinggal pergi kedua orang tua saat masih kecil, sudah tentu pertumbuhan badanku kurang baik, dengan banyak ingus meleleh dan perut buncit, saya diajak paman datang bawa makan (petatas/ubi jalar merah kesukaan) menemui Pak Jamaluddin Iribaram.

Paman saya, Heramon Asso, pelopor salah satu gigih Islam di Walesi. Ustadz Jamaluddin akrab dengan paman saya karena alasan perlindungan. Rumah tempat tinggal Pak Jamal banyak pakaian sumbangan dari Jayapura. Saya pakai baju duluan dari kawan-kawan sebaya. Hampir seluruh orang Walesi kala itu masuk Islam masih mengenakan koteka. Jika ada orang datang berpakaian bau sabun atau wangi tercium jelas oleh warga walaupun jaraknya jauh, mungkin dipengaruhi udara yang sangat bersih dan asli. Pamanku Heramon Asso menemui Pak Jamal masih mengenakan koteka.

Tempat Pak Jamal tinggal setiap malam (ba'da maqhrib) diadakan pengajian al-qur'an. Saya dan teman-teman sebaya belajar mengaji disini. Kami lebih dulu tahu menyebut; alif, ba, ta, sta dst. huruf hujaiyyah, (abjad arab) daripada huruf latin. Kami diajarkan membaca Al-Qur’an dimulai dari Juz ‘amma hingga khatam masuk Qur’an besar dimulai awal dari surat Alif Lam Mim (Surat Al-Baqorah). Awalnya dituntun, karena sering ulang-ulang, surat-surat pendek ayat Al-Qur’an sudah kami hafal. Kami juga diajarkan tajwid dan makharojul huruf.

Di Walesi selain SD YPPK belum ada sekolah lain waktu itu. Ada SD Impres di Megapura jauh dari Walesi. Tidak ada kegiatan lain selain belajar mengaji yang tempatnya digunakan dari bangunan rumah tempat tinggal guru. Bangunan itu dipakai sebagai tempat sholat, mengaji dan belajar pendidikan agama islam sekaligus. Bangunan rumah guru itu adalah bangunan Islam pertama dibangun selesai tahun 1978 di Walesi.

Pada mulanya Pak Jamal sendiri tidak ada kegiatan belajar hanya mengaji. Tapi pada tahun 1979 dua orang guru khusus Madrasah Ibtidaiyyah (MI) datang dari Jawa. Mereka didatangkan oleh Rabithah ‘Alam Islami, organisasi dunia Islam yang kantor pusatnya di Saudi Arabia itu bekerja sama dengan DDII. Dua orang guru itu bernama Bashori Alwy dan Walidan Mukhsin, mereka dari Bantul Jogjakarta. Sejak kedatangan dua guru dari Bantul Jogjakarta itu Pak Jamaluddin Iribaram pindah bantu mengajar mengaji di Kota Wamena.

Pembangunan sekolah pertama dimulai tahun 1978, selesai tahun 1980. Bangunan sekolah itu kelak dinamai menjadi Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Merasugun Asso Walesi. Nama Merasugun Asso dari nama pejuang dan orang paling pertama masuk islam sebagai muallaf asal Walesi, atas jasa-jasa perjuangan namanya diabadikan menjadi nama Madrasah. Sekolah ini pertama dan juga satu-satunya di kabupaten Jayawi jaya sampai hari ini.

Bangunan Sekolah itu dibangun lengkap dengan 6 ruangan kelas. Kegiatan belajar mengajar layaknya Madrasah Ibtidaiyyah mulai digunakan bangunan baru ini. Sumbangan mengalir dari mana-mana. Dari Jepang, Malaysia, Jakarta, Jayapura juga dari kota Wamena sendiri. Sumbangan berupa pakaian dan alat-alat perlengkapan sholat. Dari Jepang alat-alat sekolah seperti buku, pensil, penghapus dll. Kami siswa paling modern tapi juga paling lengkap untuk ukuran pedalaman Papua kala itu.

Home Industri Buah Merah Muslim Walesi Wamena Papua.

Share this article :

1 komentar:

  1. alhamdulillah....wawasan ana makin bertambah....
    semoga tanah papua makin maju,makmur dan damai

    "Jaza-Kallah Khairan Katsiiraa"

    BalasHapus

Bapak Umar
 
Design by : Studio Web - Copyright © 2013. OBAT ALAMI PAPUA - All Rights Reserved
Template by Creating Website - Powered by Blogger